Tu-104 Pesawat Penumpang Berbasis Pembom yang Sempat Menguasai Langit Dunia

Tu-104: Pesawat Penumpang Berbasis Pembom yang Sempat Menguasai Langit Dunia

Ketika Tupolev Tu-104 lepas landas dari Bandara Vnukovo, Moskow, pada 15 September 1956, pesawat itu melakukan lebih dari sekadar membuka rute penerbangan baru. Pesawat tersebut membawa Uni Soviet memasuki era jet dan, selama kurun waktu singkat sekitar dua tahun, menjadikan negara itu satu-satunya negara di dunia yang mengoperasikan pesawat jet untuk mengangkut penumpang.

Tu-104 bermesin ganda, yang oleh NATO diberi kode nama “Camel”, merupakan pesawat jet penumpang kedua dalam sejarah yang memasuki layanan penerbangan komersial terjadwal, setelah de Havilland Comet buatan Inggris. Namun, ketika Comet dihentikan operasinya setelah serangkaian kecelakaan fatal yang menyebabkan pesawat hancur di udara, Tu-104 justru baru memulai kiprahnya.

Dari tahun 1956 hingga 1958, Tu-104 menjadi satu-satunya pesawat jet penumpang yang beroperasi di dunia. Keberhasilan ini menjadi sumber kebanggaan besar bagi Kremlin sekaligus kemenangan propaganda Uni Soviet dalam Perang Dingin, yang kemudian diperkuat oleh peluncuran Sputnik pada tahun berikutnya.

Lahir dari Sebuah Pesawat Pembom

Tu-104 Pesawat Penumpang Berbasis Pembom yang Sempat Menguasai Langit Dunia

Kisah Tu-104 bermula pada awal 1950-an, ketika maskapai penerbangan negara Uni Soviet, Aeroflot, menyadari bahwa armada pesawat bermesin baling-balingnya mulai menua dan semakin kesulitan melayani wilayah Uni Soviet yang sangat luas. Pesawat seperti Lisunov Li-2 dan Ilyushin Il-12 tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan penerbangan modern secara optimal.

Aeroflot membutuhkan pesawat angkut modern dengan kapasitas penumpang lebih besar, jangkauan lebih jauh, dan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Solusinya bukan merancang pesawat baru dari awal, melainkan memanfaatkan teknologi yang sudah dikembangkan untuk keperluan militer.

Aeroflot meminta Biro Desain Tupolev mengembangkan pesawat penumpang berdasarkan Tu-16 “Badger”, pesawat pembom strategis bersayap menyapu milik Angkatan Udara Soviet. Pendekatan ini menjadi jalan pintas yang berani dalam pengembangan penerbangan sipil.

Tu-104 mempertahankan sebagian besar rancangan sayap, mesin, roda pendaratan, dan permukaan ekor Tu-16. Komponen tersebut dipadukan dengan badan pesawat baru yang lebih lebar dan bertekanan udara, yang dirancang untuk mengangkut sekitar 50 penumpang. Bahkan, bagian hidung bergaya pembom dengan jendela kaca untuk navigator turut dipertahankan.

Kepala perancang Tupolev, Andrei Tupolev, mempresentasikan konsep tersebut kepada pemimpin Soviet Joseph Stalin beberapa minggu sebelum kematian sang diktator pada Maret 1953. Di bawah kepemimpinan pengganti Stalin, Nikita Khrushchev, proyek tersebut memperoleh prioritas tinggi. Khrushchev memandang penerbangan sipil sebagai bagian penting dari strategi Soviet untuk mengejar dan melampaui negara-negara Barat.

Pada 11 Juni 1954, Dewan Menteri Uni Soviet mengesahkan pembangunan pesawat penumpang baru tersebut dengan nama Tu-104.

Pengembangan dalam Waktu Hanya 14 Bulan

Kecepatan pengembangan Tu-104 sangat mengesankan. Dalam waktu sekitar 14 bulan, biro desain Tupolev di Moskow, yang saat itu mempekerjakan sekitar 10.000 orang, berhasil menghasilkan prototipe yang siap terbang.

Pada 17 Juni 1955, Tu-104 melakukan penerbangan perdananya dari pangkalan pengujian dan pengembangan penerbangan di Zhukovsky. Pilot uji Yuri Alasheyev berada di kokpit ketika pesawat tersebut mengudara, dua bulan lebih cepat dari jadwal yang direncanakan. Pesawat produksi pertama menyusul pada November 1955.

Untuk mengatasi keterbatasan landasan pacu pada masa itu, Tu-104 dilengkapi parasut pengerem yang dapat memperpendek jarak pendaratan hingga sekitar 400 meter. Fasilitas ini sangat membantu karena hanya segelintir bandara Soviet yang mampu memenuhi kebutuhan operasional pesawat jet baru tersebut.

Debut Tu-104 di Panggung Dunia

Kremlin tidak membuang waktu untuk memanfaatkan pesawat barunya sebagai sarana menunjukkan kemampuan teknologi Uni Soviet kepada dunia internasional.

Pada 22 Maret 1956, sebuah prototipe Tu-104 mendarat di Bandara Heathrow, London, dengan membawa Jenderal Ivan Serov, kepala KGB, menjelang kunjungan resmi Nikita Khrushchev dan Nikolai Bulganin.

Menurut sebuah dokumenter televisi Rusia, Khrushchev sendiri pernah ingin menerbangkan pesawat jet penumpang tersebut menuju Heathrow. Namun, Andrei Tupolev dilaporkan berhasil membujuknya untuk membatalkan rencana itu karena pesawat tersebut masih memiliki pengalaman pengujian yang terbatas.

Memulai Layanan Komersial pada 1956

Tu-104 mulai melayani penerbangan penumpang reguler Aeroflot pada 15 September 1956 melalui rute Moskow–Omsk–Irkutsk. Pesawat ini menggantikan Ilyushin Il-14 yang menggunakan mesin baling-baling.

Kehadiran Tu-104 membawa perubahan besar terhadap waktu perjalanan. Penerbangan dari Moskow menuju Irkutsk yang sebelumnya memerlukan sekitar 13–17 jam dapat ditempuh dalam sedikit lebih dari tujuh jam. Pada beberapa rute, waktu perjalanan bahkan dapat dipangkas menjadi sekitar lima setengah jam.

Kabin bertekanan udara, sistem pendingin udara, dan berbagai upaya peredaman kebisingan turut meningkatkan kenyamanan penumpang. Dibandingkan dengan banyak pesawat yang beroperasi pada masa itu, Tu-104 menawarkan pengalaman penerbangan yang lebih modern.

Memperluas Jaringan Penerbangan Internasional

Pada 1957, Aeroflot mulai mengoperasikan Tu-104 untuk penerbangan internasional dari Bandara Vnukovo menuju sejumlah kota, termasuk London, Budapest, Kopenhagen, Beijing, Brussel, Delhi, Ottawa, dan Praha.

Pada September 1957, sebuah Tu-104A menjadi pesawat sipil Soviet pertama yang mengunjungi Amerika Serikat sejak Perang Dunia II. Pesawat itu membawa sejumlah pejabat untuk menghadiri sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York.

Pada tahun yang sama, Czech Airlines atau ČSA, satu-satunya pelanggan ekspor Tu-104, membeli enam unit pesawat tersebut. Maskapai Cekoslowakia ini kemudian mengoperasikan rute Praha–Moskow menggunakan pesawat jet, menjadi salah satu tonggak penting dalam perkembangan penerbangan komersial berbasis jet.

Spesifikasi dan Varian Tupolev Tu-104

Tu-104 merupakan pencapaian teknologi yang luar biasa pada masanya. Pesawat ini ditenagai dua mesin turbojet Mikulin AM-3, yang berasal dari keluarga mesin yang juga digunakan pada pesawat pembom Myasishchev M-4.

Kecepatan maksimum Tu-104 mencapai sekitar 950 km/jam, sedangkan kecepatan jelajahnya berkisar antara 470 hingga 530 mil per jam. Pesawat ini beroperasi pada ketinggian sekitar 32.800–39.400 kaki dan menjadi pesawat penumpang tercepat di dunia ketika pertama kali diperkenalkan.

Namun, jangkauannya menjadi salah satu kelemahan utama. Dengan jarak tempuh sekitar 1.320–1.900 mil, bergantung pada muatan, sebagian besar penerbangan jarak jauh melintasi Uni Soviet masih memerlukan beberapa kali pemberhentian.

Produksi Tu-104 berlangsung dari 1956 hingga 1960, dengan sekitar 200 pesawat dibuat dalam beberapa varian.

Tu-104A: Kapasitas Penumpang Lebih Besar

Tu-104A diperkenalkan pada 1957. Varian ini menggunakan mesin Mikulin AM-3M yang lebih bertenaga dan mampu mengangkut hingga 70 penumpang. Peningkatan tersebut membantu Aeroflot melayani permintaan perjalanan udara yang terus berkembang.

Tu-104B: Mengangkut Hingga 100 Penumpang

Tu-104B mulai beroperasi pada 15 April 1959 melalui rute Moskow–Leningrad. Badan pesawatnya diperpanjang sekitar 1,2 meter sehingga kapasitasnya meningkat hingga 100 penumpang. Varian ini juga sempat dikenal sebagai salah satu pesawat penumpang tercepat di dunia.

Varian Pengembangan Lainnya

Pengembangan keluarga Tu-104 mencakup Tu-104D dan Tu-104V. Tupolev juga mengembangkan Tu-110, versi bermesin empat yang tidak pernah memasuki layanan operasional. Sementara itu, versi angkut militer Tu-107 hanya berhasil dibuat dalam satu unit.

Catatan Keselamatan Tu-104 yang Mengkhawatirkan

Di balik kecepatan dan prestisenya, Tu-104 memiliki reputasi keselamatan yang mengkhawatirkan. Pesawat ini membutuhkan tenaga besar untuk mengendalikan kemudi dan memiliki kecepatan pendekatan pendaratan yang tinggi. Seperti sejumlah pesawat bersayap menyapu tajam pada generasinya, Tu-104 juga rentan mengalami kehilangan daya angkat atau stall pada kecepatan rendah, terkadang dengan sedikit atau tanpa peringatan.

Kecelakaan Fatal pada 1958

Bahaya tersebut terlihat jelas pada 15 Agustus 1958, ketika Aeroflot Penerbangan 04 yang menggunakan Tu-104A mengalami stall dan berputar jatuh di wilayah Khabarovsk. Pesawat tersebut dilaporkan memasuki arus udara naik pada ketinggian 39.000 kaki sebelum kehilangan kendali. Seluruh 64 orang di dalamnya tewas. Peristiwa ini menjadi kecelakaan fatal pertama yang melibatkan Tu-104.

Pada 17 Oktober 1958, kecelakaan fatal lainnya terjadi. Sebuah Tu-104A mengalami gerakan hidung pesawat yang terangkat secara ekstrem, kemudian memasuki penurunan tajam yang tidak dapat dipulihkan dan jatuh di dekat kota Kanash. Seluruh 80 orang di dalam pesawat tewas, termasuk sejumlah diplomat berpangkat tinggi dari negara-negara yang bersekutu dengan Uni Soviet.

Masalah Stabilitas pada Ketinggian Tinggi

Penyelidik Soviet mengidentifikasi fenomena berbahaya berupa kecenderungan hidung pesawat terangkat secara tiba-tiba pada ketinggian tinggi. Gerakan tersebut dapat memicu stall dan penurunan tajam yang sulit dikendalikan.

Setelah bencana Kanash, pemerintah Soviet tetap mempertahankan Tu-104 dalam layanan, tetapi membatasi ketinggian operasionalnya hingga sekitar 30.000 kaki dan melakukan perancangan ulang pada stabilisatornya.

Andrei Tupolev pada awalnya dilaporkan menolak kritik terhadap desain pesawat tersebut. Ia konon menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan pesawat dan bahwa para pilotlah yang belum memahami cara menerbangkannya. Namun, setelah mendapat tekanan dari Dewan Menteri Soviet, ia menyetujui perubahan pada rancangan sayap dan sistem kendali penerbangan untuk mengatasi sejumlah masalah.

Perubahan tersebut membantu memperbaiki karakteristik penerbangan Tu-104, meskipun tidak menghilangkan seluruh risikonya.

Tingkat Kecelakaan dan Tantangan Operasional

Para pilot semakin waspada terhadap risiko stall. Untuk mengurangi kemungkinan kehilangan daya angkat saat mendekati landasan, awak penerbangan terbiasa mendaratkan Tu-104 pada kecepatan sekitar 270–300 km/jam, kurang lebih 50 km/jam lebih tinggi daripada kecepatan pendekatan yang direkomendasikan.

Menurut perkiraan Flight Safety Foundation Amerika Serikat, antara 1958 dan 1981, sebanyak 16 Tu-104 mengalami kecelakaan yang menyebabkan pesawat hancur, dengan sedikitnya 1.140 korban jiwa. Sekitar 37 pesawat dilaporkan akhirnya tidak dapat digunakan akibat berbagai insiden.

Penyebab kecelakaan sangat beragam, mulai dari kegagalan mesin dan kesalahan pembacaan instrumen akibat kabel yang rusak karena air, hingga lepas landas dengan muatan berlebihan.

Pada Juni 1962, sebuah rudal antipesawat yang menyimpang dari jalurnya dalam latihan pertahanan udara juga mengenai sebuah Tu-104. Seluruh 84 orang di dalam pesawat tewas dalam insiden tersebut.

Akhir Perjalanan Tu-104

Memasuki awal 1960-an, kemunculan Boeing 707 dan Douglas DC-8, yang memiliki jangkauan jauh lebih besar, mulai menggeser posisi Tu-104 di panggung penerbangan dunia. Uni Soviet menghadapi kesulitan untuk menyamai kemampuan pesawat jet Barat dalam melayani penerbangan jarak jauh.

Meskipun demikian, Tu-104 tetap menjalankan tugasnya di dalam negeri selama bertahun-tahun. Selama lebih dari dua dekade beroperasi, pesawat ini mengangkut lebih dari 90 juta penumpang untuk Aeroflot.

Pensiun dari Penerbangan Sipil pada 1979

Aeroflot akhirnya menghentikan penggunaan Tu-104 untuk penerbangan sipil pada Maret 1979, menyusul sebuah kecelakaan fatal di Bandara Vnukovo, Moskow.

Meski sudah pensiun dari layanan komersial, sejumlah pesawat tetap digunakan oleh militer Soviet sebagai pesawat angkut pejabat tinggi dan personel. Tu-104 juga dimanfaatkan untuk melatih kosmonaut menghadapi kondisi tanpa gravitasi melalui manuver penerbangan parabola.

Tragedi Terakhir pada 1981

Pada 7 Februari 1981, sebuah Tu-104A milik Angkatan Laut Soviet jatuh sesaat setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Pushkin, dekat Leningrad, yang sekarang dikenal sebagai St. Petersburg.

Seluruh 50 orang di dalam pesawat tewas, termasuk 16 laksamana dan jenderal. Salah satu korban adalah Komandan Armada Pasifik Soviet, Laksamana Emil Spiridonov.

Penyelidik menyimpulkan bahwa pesawat tersebut tidak dimuati dengan benar. Gulungan kertas yang berat bergeser ke bagian belakang selama proses lepas landas sehingga memindahkan pusat gravitasi pesawat melampaui batas aman.

Bencana tersebut mengakhiri karier militer Tu-104. Seluruh pesawat yang masih tersisa akhirnya dilarang terbang secara permanen.

Penerbangan Terakhir dan Warisan Tu-104

Tu-104 terakhir yang pernah terbang melakukan penerbangan pemindahan menuju Museum Pesawat Terbang Ulyanovsk pada 11 November 1986.

Meskipun karier operasionalnya telah berakhir, pengaruh Tu-104 tetap bertahan. Pengalaman yang diperoleh Tupolev dari pengembangan pesawat ini membantu lahirnya pesawat-pesawat penerus, termasuk Tu-124, Tu-134, dan Tu-154 yang sangat sukses.

Tu-124 menjadi salah satu tonggak pengembangan pesawat penumpang bermesin turbofan, sedangkan Tu-134 dan Tu-154 melanjutkan perkembangan penerbangan sipil Soviet selama beberapa generasi.

Tu-104 merupakan pelopor yang memiliki banyak kelemahan dan dikenang bukan hanya karena pencapaiannya, tetapi juga karena serangkaian kecelakaan tragis yang menyertainya. Meski demikian, posisinya dalam sejarah penerbangan tidak dapat diabaikan. Pesawat inilah yang membawa Uni Soviet memasuki era jet dan, untuk sesaat yang gemilang, menempatkannya di garis depan perkembangan penerbangan komersial dunia.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama